BREAKING NEWS
Search

Belajar Dari Semut Nabi Sulaiman; Ada 3 Cara yang Disyariatkan Agar Turun Hujan

Kering karena kurang hujan

Penjelasan Sebagian pakar yang diklaim ilmiah oleh mereka dan bahkan didukung oleh sebagian yang lainnya tentang bagaimana caranya supaya turun hujan, seringkali menyebabkan kita lupa akan ketergantungan kita sebagai makhluk kepada sang Khaliq Allah SWT, yang pada akhirnya menghantarkan kita menjadi hamba yang hanya bersandar pada teori-teori ilmiyah untuk menyelesaikan masalah-masalah alamiyah.

Ketahuilah bahwa dalam setiap peristiwa alam yang terjadi, baik kita rasakan secara langsung atau tidak, ada dua sebabnya, yaitu sebab asal yang disebut asbab syar'iyah dan sebab cabang yang disebut asbab kauniyah.

Kebanyakan orang sungguh-sungguh dalam memperhatikan asbab kauniyah dan melupakan asbab syar'iyah yang menjadi sebab kenapa peristiwa alam tertentu terjadi. Mereka ini manusia-manusia yang kering secara spiritual, gersang hatinya segersang kemarau yang dirasakannya.

Berdasarkan teori diatas, maka manusia dalam memahami fenomena alam terbagi kepada dua golongan. Yaitu pertama golongan manusia yang berorientasi pada asbab kauniyah dan kedua, golongan manusia yang berorientasi pada asbab syar'iyah. Lalu apa itu asbab kauniyah dan apa pula yang dimaksud dengan asbab syar'iyah…? Penjelasan dibawah ini akan mengupas jawaban dari pertanyaan tersebut.

ORIENTASI ASBAB KAUNIYAH
Apa itu asbab kauniyah…? Asbab kauniyah maknanya adalah sebab-sebab alamiyah. Untuk memperjelas konsep asbab kauniyah, saya akan kemukakan satu contoh ; Misalnya ada sebagian kita, merasa khawatir karena kemarau panjang, maka untuk menghilangkan kekhawatiran dan kegelisahan yang dirasakan karena kemarau terlalu panjang, dan kesusahan mencari air, akhirnya mereka bertanya-tanya kenapa terjadi kemarau, apakah ini akan terus terjadi sepanjang masa…?

Untuk menghilangkan kegelisahannya ini mereka mencari tahu bagaimana penjelasan para pakar tentang terjadinya kemarau, Kemudian para ilmuan alam menjelaskan gejala-gejala alamiyah kenapa musim kemarau terjadi, dan menjelaskan pula teorinya, sekaligus menjelaskan kapan kemarau akan berakhir, nah setelah mereka mengetahui penjelasan ilmiyahnya, mereka akan merasa tenang, nyaman dan hilang kegelisahan karena kemarau itu memang musiman, nanti juga ada masa selesainya, ini soal waktu saja.

ORIENTASI ASBAB SYAR'IYAH
Makna asbab syar'iyah adalah sebab-sebab yang diberitakan oleh syara' (al-Qur'an atau sunnah shahihah), kenapa kemarau terjadi, dan apa yang harus kita lakukan supaya kemarau cepat hilang… .? Nah orang yang berorientasi kepada asbab syar'iyah ini dia tidak akan puas hanya dengan penjelasan ilmiyah tapi dia akan mencari sebab-sebab adanya kemarau berdasarkan penjelasan syara'. Lalu mencari tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi berdasarkan penjelasan-penjelasan syara' juga tentunya.

Contoh asbab syar'iyah kenapa kemarau terjadi, misalnya dijelaskan dalam hadis dari Abdullah bin Umar tentang peringatan Rasulullah SAW kepada kaum muhajirin dari 5 perkara yang bisa mendatangkan 5 malapetaka, diantaranya ada satu perkara yang bisa menyebabkan hujan tertahan, yaitu keenganan orang-orang yang mampu dalam mengeluarkan zakat malnya, Rasulullah bersabda dalam hadis berikut ini ;

قال النبي صلى الله علسه وسلم :… وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا…(رواه ابن ماجه والحاكم و ابن حبان وصححه الألباني)

Artinya ; Nabi SAW bersabda ;… Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan...(HR. Ibnu Majah dan al-Hakim dengan sanad yang shahih juga oleh Ibnu Hibban, Syeikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab as-Shahihah no.106)

Bersandar hanya kepada asbab kauniyah dalam memahami fenomena alam, secara perlahan akan memaksa kita menjadi manusia yang materialistis, dan kehilangan ruh spiritualitasnya, pada saatnya juga akan menggerus sikap takut dan tawakkal kita kepada Allah SWT.
***
Tulisan ini saya buat untuk menanggapi berita hoax (bohong, tidak bisa dipecaya) atau dianggap hoax tentang cara-cara yang bisa kita lakukan supaya turun hujan dengan segera (dan BMKG sudah meluruskan informasi tersebut lewat situs resminya), disisi lain saya juga perlu menegaskan bahwa apa yang saya tulis ini sama sekali tidak mencerminkan bahwa saya anti atau tidak sepakat dengan adanya perkembangan sain atau ilmu pengetahuan, tapi untuk sekedar saling mengingatkan bahwa sesungguhnya ada kekuatan sangat besar yang mengendalikan setiap fenomena alam yang terjadi dan kita rasakan bersama. Itulah Dzat yang Maha Agung Allah SWT, hanya kepada-Nya kita diperintahkan untuk meminta dengan tanpa melupakan ikhtiar-ikhtiar manusiawi yang diidzinkan oleh syara'.

عنِ ابنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قال ; قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ. (رواه أحمد والترمذي)

Artinya : Dari Abdullah bin Abbas r.a ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : "… Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah..." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)Hadis diatas memberikan tuntunan kepada kita, supaya Allah SAW lah yang paling pertama untuk kita jadi sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan atas setiap persoalan yang kita hadapi, dan untuk menyelesaikan setiap masalah-masalah yang ada.
***
Air adalah materi yang sangat dibutuhkan, bukan hanya oleh kita manusia, bahkan hewan dan tumbuh-tumbuhanpun membutuhkannya.
Pernah suatu ketika ada seekor semut yang sedang berdo'a kepada Allah SWT meminta supaya diturunkan hujan, dengan cara menengadahkan kaki-kakinya atau tangannya ke atas ke arah langit, dan itu diketahui oleh Nabi Sulaeman alaihis salaam.
Kejadian yang dilihat oleh Nabi Sulaeman tentang apa yang dilakukan oleh semut ketika minta hujan adalah fakta bahwa hewanpun butuh hujan.

Cerita diatas digambarkan dalam sebuah hadis dari Nabi SAW berikut ini ;

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ اَلسَّلَامُ يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إِلَى اَلسَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ)

Artinya : Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Nabi Sulaiman pernah keluar untuk memohon hujan, lalu beliau melihat seekor semut terlentang di atas punggungnya dengan kaki-kakinya terangkat ke langit seraya berkata: "Ya Allah kami adalah salah satu makhluk-Mu yang bukan tidak membutuhkan siraman airmu. Maka Nabi Sulaiman berkata: Pulanglah, kamu benar-benar akan diturunkan hujan karena doa makhluk selain kamu." (HR. Ahmad dan al-Hakim dan ia menshahihkannya)
***
Kemudian bagaimanakah penjelasan syara' pada saat sedang kemarau panjang, sudah lama tidak turun hujan, persediaan air sudah menipis, bahkan disebagian tempat sudah habis.
Sebagian orang ada yang hanya berpatokan pada shalat istisqo, dan ini memang benar disyari'atkan, tidak ada satupun ulama yang mengingkarinya, tetapi kalau kita mau jujur, shalat istisqo pun sebenarnya masih banyak yang belum mengetahuinya.
Untuk menjelaskan masalah diatas inilah, saya mencoba menuliskan secara ringkas apa saja yang sesesungguhnya telah disyari'atkan Allah SWT dan Rasul-Nya pada saat kita menginginkan supaya cepat turun hujan, karena kemarau sudah terasa sangat lama, dan air sudah tidak ada.

Saudaraku, jika kita telaah hadis-hadis yang ada, kita akan temukan bahwa sesungguhnya ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meminta supaya segera turun hujan dan cara-cara tersebut sesuai dengan tuntunan syara' karena Rasulullah SAW pun pernah melakukannya.
***

ADA 3 CARA UNTUK MEMINTA AGAR SEGERA TURUN HUJAN
Dalam kitab "Minhatul Allaam Syarh Bulughil Maram" Syeikh Abdullah bin Sholeh al-Fauzan menjelaskan ada 3 cara untuk meminta hujan. Apa saja ketiga cara yang dimaksud…? Ketiga cara tersebut adalah ; 1. Dengan shalat istisqo secara berjama'ah dilapangan bersama imam ; 2. Dengan cara berdo'a ketika menjadi khotib jum'at, atau kalau kita sebagai makmum (atau pengurus takmir masjid) meminta supaya khotib berdo'a kepada Allah SWT didalam khutbahnya untuk meminta segera diturunkan hujan ; 3. Berdo'a secara langsung baik sendiri-sendiri atau diamini oleh jama'ah, khususnya diwaktu-waktu yang mustajabah.

1. SHALAT ISTISQO
Inilah cara paling populer, untuk meminta segera turun hujan kepada Allah SWT, dan cara ini telah disepakati kebenarannya oleh mayoritas ulama, yaitu shalat istisqo.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: شَكَا اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ, فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ,فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ, فَقَعَدَ عَلَى اَلْمِنْبَرِ, فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اَللَّهَ, ثُمَّ قَالَ: "إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ, وَقَدْ أَمَرَكُمْ اَللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ,ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ"ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ, فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ, ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى اَلنَّاسِ ظَهْرَهُ, وَقَلَبَ رِدَاءَهُ, وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ,ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى اَلنَّاسِ وَنَزَلَ, وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَأَنْشَأَ اَللَّهُ سَحَابَةً, فَرَعَدَتْ, وَبَرَقَتْ, ثُمَّ أَمْطَرَتْ. (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَقَالَ: "غَرِيبٌ, وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ")

Artinya : 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar.

Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu.

Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama."

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya.
Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. (HR. Abu Dawud, dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik).

2. KHOTIB JUM'AT BERDO'A DIDALAM KHUTBAHNYA.
Cara yang kedua ini pernah terjadi pada zaman ketika Rasulullah SAW masih hidup, disaat beliau sedang berdiri menyampaikan khutbahnya pada hari jum'at, tiba-tiba ada seorang jama'ah yang meminta Nabi SAW supaya berdo'a kepada Allah SWT untuk segera menurunkan hujan, dan Nabi SAW pun meresponnya dengan positif lalu berdo'a sebagaimana yang diinginkan oleh salah satu jama'ah yang ada.

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه : أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ اَلْمَسْجِدَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, هَلَكَتِ اَلْأَمْوَالُ, وَانْقَطَعَتِ اَلسُّبُلُ, فَادْعُ اَللَّه عَزَّ وَجَلَّ يُغِيثُنَا, فَرَفَعَ يَدَيْهِ, ثُمَّ قَالَ: "اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا". (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya : Dari Anas bahwa ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum'at di saat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdiri memberikan khutbah, lalu orang itu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah binasa, jalan-jalan putus, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kita hujan. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: "Ya Allah turunkanlah hujan pada kami, ya Allah turunkanlah hujan kepada kami." (Muttafaq Alaihi)

3. BERDO'A SECARA LANGSUNG TANPA SHALAT ISTISQO, JUGA TIDAK SEDANG KHUTBAH JUM'AT
Selain dengan shalat istisqo, dan do'a khatib jum'at ketika sedang berkhutbah, meminta segera turun hujan bisa juga dilakukan dengan berdo'a secara langsung, dengan tanpa shalat istisqo dan bukan ketika sedang khutbah pula, tetapi langsung berdo'a bisa sendiri atau berjama'ah, tapi tentu jika diamini oleh jama'ah kaum muslimin akan lebih baik.
Dalil dari pandangan diatas berdasarkan hadis dari Sa'ad radiyallahu 'anhu berikut ini ;

عن سعد رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم نزل واديا دهسا لا ماء فيه، وسبقه المشركون إلى القلاب، فنزلوا عليها، وأصاب العطش المسلمين، فشكووا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلّم، ونجم النفاق، فقال بعض المنافقين : لو كان نبيّاً كما يزعم لاستشقى لقومه كما استشقى موسى لقومه. فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلّم، فقال : أو قالوها… ؟ عسى ربكم أن يسقيكم، ثم بسط يديه، وقال :اللهمّ جللنا سحابا كثيفا قصيفا دلوقا حلوقا ضحوكا زبرجا تمطرنا فيه رذاذا قطقطا سجلا بعاقا يارذالجلال والإكرام.فما رد يديه من دعائه حتى أظلتنا السحابة التي وصفت، تتلون في كل صفة وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم من صفات السحاب، ثم امطرنا كالغروب التي سألها رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأفعم السيل الوادي، فشرب الناس من الوادي وارتووا (رواه أبو عوانة في صحيحه)

Artinya ; Dari Sa'ad r.a : bahwasannya Rasulullah SAW mampir di lembah yang kering dan tak ada airnya, orang2 musyrik telah mendahuluinya ke al-qilab, kemudian mereka turun, sedangkan kaum muslimin tertimpa kehausan, maka mereka melapor kepada Nabi SAW, muncullah orang yang dihatinya ada sifat nifaq, maka berkatalah sebagian orang munafik : seandainya di (Muhammad) adalah Nabi seperti yang diklaim, niscaya dia akan meminta hujan untuk kaumnya, sebagaimana Musa minta hujan untuk kaumnya.Maka sampailah berita itu kepada Nabi SAW, beliau pun berkata : itukah yang dikatakan oleh mereka… ? Semoga Tuhan kalian menurunkan hujan buat kalian, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo'a (yang artinya) ;Ya Allah ratakanlah hujan kepada kami, dan tebalkanlah awannya, yang berguntur besar dan berkilat, awan yang indah yang dengannya Engkau hujani kami, dengan tetesan air hujan yang kecil-kecil tapi terus menerus, rintik-rintik airnya, yang menyirami seluruh bumi, menghujani dengan lebat duhai Dzat yang Maha Agung lagi Maha Mulia"Dan tidaklah beliau turunkan tangannya, hingga awan menaungi kami, seperti yang disifati, nampak sifatnya seperti yang disifati oleh Rasulullah SAW dari sifat-sifat awan yang ada. Kemudian menghujani kami bagaikan salju yang diminta oleh Rasulullah SAW, maka aliran air mengairi lembah, orang-orangpun minum dari air lembah itu hingga mereka kenyang. (HR. Abu Awanah dalam kitab Shahihnya)
***
IKHTITAM
Dengan adanya tiga cara yang bisa kita lakukan untuk meminta segera diturunkan hujan kepada Allah SWT, maka jika hingga hari ini belum ada inisiatif dari para pemimpin atau para Imam untuk mengadakan shalat istisqo, padahal sudah banyak masyarakat yang berteriak kekeringan, ada baiknya alternatif kedua dan ketiga juga dilakukan.

Para pengurus takmir masjid agar mendorong khatib jum'at dimasjidnya untuk berdo'a meminta hujan, baik dengan do'a yang pendek atau dengan do'a yang agak panjang yang jelas sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW.
Dan kita semua sebagai individu selain perlu memperbayak istighfar, kitapun bisa juga berdo'a meminta hujan baik sendiri-sendiri maupun diamini oleh jama'ah di masjid atau dirumah masing-masing, khususnya di saat-saat mustajabah supaya Allah SAW menurunkan hujan dengan segera.

Jadi jangan sampai ada pemahaman, karena tidak ada shalat istisqo, kita meninggalkan cara meminta hujan dengan alternatif lain yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Semoga do'a kita semua diijabah dan dikabulkan oleh Allah SWT, hujan yang membawa berkah, bukan bencana, dan jangan lupa ketikabturun hujan yang pertama kita sambut hujan tersebut dengan membiarkan badan kita terkena air hujan itu, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi SAW, seperti digambarkan dalam hadia dibawah ini ;

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: أَصَابَنَا -وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ- صلى الله عليه وسلم مَطَرٌ قَالَ: فَحَسَرَ ثَوْبَهُ, حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ اَلْمَطَرِ, وَقَالَ: "إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ". (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).

Artinya : Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah kehujanan, lalu beliau membuka bajunya sehingga badan beliau terkena hujan. Beliau bersabda: "Sesungguhnya hujan ini baru datang dari Tuhannya." (HR. Muslim.)

Selain itu, juga jangan lupa ketika hujan sudah turun, gerakkanlah lisan kita untuk berdo'a kepada Allah dengan mengucapkan "Allahumma Shayyiban Naafi'an" artinya "Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat".
Do'a diatas adalah do'a yang diajarkan Nabi SAW ketika beliau melihat hujan turun, perhatikan hadis dibawah ini ;

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَأَى اَلْمَطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا. (أَخْرَجَاهُ أي البخاري ومسلم)

Artinya : Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bila melihat hujan, beliau berdoa: "Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat." (Dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim.)

Demikian penjelasan mengenai alternatif lain selain shalat istisqo untuk memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan, hingga bumi menjadi hijau kembali, air tidak sulit lagi, udara menjadi segar, hutan yang terbakar apinya padam, asap yang selama ini mengganggu sebagian masyarakat di riau, sumatera dan sekitarnya berhenti karena guyuran air hujan yang diberkahi. Amiin ya mujibassaailiin…

Ditulis Oleh Ustadz Ahmad Hasanuddin Umar
Pengajar Ushul Fiqh di PPTM




nanomag

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus.


0 thoughts on “Belajar Dari Semut Nabi Sulaiman; Ada 3 Cara yang Disyariatkan Agar Turun Hujan